Logo Darun Najah

DARUN NAJAH

Keboncandi, Pasuruan

Batas Waktu I’tidal dan Duduk di antara Dua Sujud

Bismillahirrahmanirrahim.

Sholat adalah ibadah yang menjadi fondasi agama bagi seorang muslim. Di dalam ibadah sholat, terdapat rukun-rukun yang harus dijalankan secara sempurna seperti membaca Al-Fatihah, Thuma’ninah, dan lain sebagainya. Rukun sholat yang ada tujuh belas di antaranya ada rukun Qouli dan Fi’li seperti yang telah disebutkan, dan ada rukun thawil dan qashir seperti ruku’ dan i’tidal. Syarat rukun qashir bisa menjadi sempurna adalah dengan cara tidak menjalankan rukun tersebut dalam waktu yang terlalu lama. Apabila rukun qashir dijalankan terlalu lama secara sengaja, maka hal itu dapat membatalkan sholat seperti dalam kitab Minhaj karya Imam Nawawi:


المنهاج للنواوي

(وَتَطْوِيلُ الرُّكْنِ الْقَصِيرِ) بِسُكُوتٍ أَوْ ذِكْرٍ لَمْ يُشْرَعْ فِيهِ (يُبْطِلُ عَمْدُهُ) الصَّلَاةَ


“Memanjangkan rukun sholat yang qashir dengan cara diam atau melantunkan dzikir yang tidak dianjurkan di rukun tersebut dapat membatalkan sholat apabila disengaja”.


Namun ada dua pendapat dalam hal ini.

  1. Al-Ashah: Membatalkan. Karena memanjangkan rukun qashir adalah merubah rukun tersebut dari asalnya sama halnya dengan memendekkan rukun thawil yang membuat kewajiban rukun tersebut tidak menjadi sempurna. Imam Haramain menambahkan: “dan karena memanjangkannya dapat merusak runtutan rukun maka dia disunnahkan sujud sahwi jika lupa memanjangkan rukun qashir”.
  2. Muqabilul Ashah: Tidak membatalkan meskipun disengaja karena terdapat hadits riwayat Muslim dari sahabat Anas: “Pada suatu waktu, saat Rasulullah sholat dan mendengarkan sami’a Allahu liman hamidah maka beliau berdiri sampai ada yang mengucap bahwa Rasulullah lupa (karena terlalu lama berdiri)”.


المغني المحتاج

(فِي الْأَصَحِّ) لِأَنَّ تَطْوِيلَهُ تَغْيِيرٌ لِوَضْعِهِ كَمَا لَوْ قَصَّرَ الطَّوِيلَ فَلَمْ يُتِمَّ الْوَاجِبَ. قَالَ الْإِمَامُ: وَلِأَنَّ تَطْوِيلَهُ يُخِلُّ بِالْمُوَالَاةِ (فَيَسْجُدُ لِسَهْوِهِ) قَطْعًا، وَالثَّانِي لَا يُبْطِلُ عَمْدُهُ لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ (( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَامَ حَتَّى يَقُولَ الْقَائِلُ قَدْ نَسِيَ))) .... وَمِقْدَارُ التَّطْوِيلِ كَمَا نَقَلَهُ الْخُوَارِزْمِيُّ عَنْ الْأَصْحَابِ أَنْ يُلْحَقَ الِاعْتِدَالُ بِالْقِيَامِ لِلْقِرَاءَةِ، وَالْجُلُوسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ بِالْجُلُوسِ لِلتَّشَهُّدِ، وَالْمُرَادُ قِرَاءَةُ الْوَاجِبِ فَقَطْ لَا قِرَاءَتُهُ مَعَ الْمَنْدُوبِ.


Batas Waktu Rukun Qashir

Al-Khawarizmi menukil dari Ashab batas rukun qashir:

I’tidal: Tidak melebihi waktu yang diperlukan saat berdiri membaca fatihah.

Duduk di antara dua sujud: Tidak melebihi waktu yang diperlukan saat tasyahud.

Yang dimaksud dengan melebihi adalah melebih bacaan wajib fatihah dan tasyahud, bukan bacaan wajib beserta sunnah.

Wallahu a’lam bisshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar